085215115650

Ads

Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Dakwah Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dakwah Sekolah. Tampilkan semua postingan

Tawakal

“Dan, tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung.” (QS. An-Nisa’:81)
“Dan hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah:23)
“Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq:3)
“Kemudian apabila kalian telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran:159)
“Jika Allah menolong kalian, maka tak ada orang yang dapat mengalahkan kalian, dan jika Allah membiarkan kalian (tidak memberikan pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kalian (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal.” (QS. Ali Imran:160)
Allah menjadikan tawakal sebagai salah satu sifat orang-orang Mukmin yang fundamental.
“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang teah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At-Taubah 9:51)
“Dan, hanya kepada Allah hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah 5:23)
Hakikat Tawakal
Bisyr Al-Hafy berkata, “Andaikata seseorang benar-benar bertawakal kepada-Nya, tentu dia ridha terhadap apa yang dilakukan Allah terhadap dirinya.”
Tawakal adalah berserah diri kepada ketetapan dan takdir Allah dalam setiap keadaan. Jika dia bertawakal dengan sebenar-benarnya tawakal, berarti ridha terhadap apa pun yang dilakukan pelindungnya.
Abu Turab An Bakhsyaby berkata, “Tawakal adalah jika diberi dia bersyukur dan jika ditahan dia bersabar.”
Tawakal tidak benar kecuali disertai pelaksanaan sebab. Jika tidak, maka itu batil dan merupakan tawakal yang rusak.
Orang yang bertawakal merasa tenang karena ada janji Allah, orang yang berserah diri cukup dengan pengetahuan tentang Allah dan orang yang pasrah ridha terhadap hikmah Allah.
”Dan, tida ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allahlah yang memberi rezkinya.” (QS. Hud:6)
“Dan, berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezkinya sendiri. Allahlah yang memberi rezki kepadanya dan kepada kalian dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ankabut:60)
Muslim yang bertawakal bukan berarti mengabaikan upaya mencari rezki. Mereka tetap berusaha dan mengeluarkan jerih payahnya. Tetapi mereka merasa tenang, karena yakin tak seorang pun yang akan memakan bagian rezkinya yang telah ditentukan Allah baginya.
Diantara buah tawakal, bahwa tatkala orang yang bertawakal kepada Allah menyodorkan sebagian sebab seperti yang telah diperin-tahkan dan sesuai dengan kesanggupannya, maka apa yang ada di luar kekuatannya akan disempurnakaan oleh kekuasaan Ilahy Yang Mahatinggi.
Tawakal tidak menafikan pertimbangan sebab (Ikhtiar)
Ada seorang laki-laki datang sambil membawa onta betina miliknya, seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah saya harus membiarkan onta ini dan saya bertawakal, ataukah saya harus mengikatnya dan bertawakal?” Beiau menjawab, “Berilah tali kekang dan bertawakallah.”
Rasulullah bersabda “Andaikata kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan memberi kalian rezki sebagaimana Dia memberikan rezki kepada burung, yang pergi dalam keadaan perut kosong dan kembali lagi dalam keadaan kenyang.”
Sabda beliau ini mengisyaratkan adanya sebab. Allah tidak memberi jaminan kekenyangan kepada burung yang pergi kecuali kepergiannya itu untuk aktif bergerak dan menyebar untuk mencari makan.
Buah tawakal kepada Allah
a.    Ketenangan dan Ketentraman
Karena meyakini adanya pertolongan dari Allah untuk menyem-purnakan apa yang ada diluar kekuatannya.

b.    Kekuatan
Yaitu kekuatan spiritual dan jiwa yang melebihi kekuatan material, kekuatan senjata maupun kekuatan uang. Kekuatan ini yang menjadi berkah bagi seorang muslim dalam menghadapi berbagai persoalan / masalah / ancaman yang dihadapinya.
“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar’. Tatkala Jalut dan tentaranya telah tampak oleh mereka, mereka pun berdoa, “Ya Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir’. Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah.” (QS. Al-Baqarah 2:249-251)
c.     Keperkasaan
Orang yang bertawakal adalah orang yang perkasa sekalipun tanpa dukungan. Hati mereka bergantung kepada Allah, tidak membutuh-kan kecuali rahmat-Nya dan tidak takut kecuali adzab-Nya.
d.    Ridha
Sebagian ulama berkata, “Selagi aku ridha kepada Allah sebagai pelindung, maka kudapatkan jalan untuk setiap kebaikan.
e.     Harapan
Orang yang bertawakal kepada Allah tidak mengenal rasa putus asa di dalam hatinya. Sebab Al-Qur’an sudah mengajarinya bahwa keputusasaan merupakan benih kesesatan dan kufur.
“Ibraham berkata, ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr :56)
Seorang muslim senantiasa memiliki harapan untuk memperoleh keberuntungan yang diminta, keselamatan dari sesuatu yang tidak disukai, kemenangan kebenaran atas kebatilan, petunjuk atas kesesatan, keadilan atas kezhaliman dan kesulitan yang lenyap.
Wahai orang yang dizhalimi dan kalah, wahai orang yang dianiaya dan kesulitan, wahai orang yang terluka dan ditimpa bencana, janganlah engkau putus asa, sekalipun banyak rintangan yang menghadang di depanmu. Sesungguhnya Dzat yang mengetahui hal-hal yang gaib, yang mengampuni dosa dan membalik hati, akan menyingkirkan kesusahan darimu, mewujudkan apa yang engkau minta, sebagaimana penyakit yang akhirnya dijauhkan dari dir Ayyub dan kembalinya Yusuf kepada Ya’qub.
Pendorong-pendorong Tawakal
1.    Mengetahui Allah dengan Asma’ul Husna-Nya
Barangsiapa mengetahui Allah sebagai Rabb yang pengasih dan penyayang, yang perkasa, bijaksana, mendengar, mengetahui, hidup, berdiri sendiri, kaya, terpuji, melihat, berkuasa, pemberi rezki, kuat, tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengeta-huan-Nya, tidak ada sesuatu pun yang membuat-Nya lemah, bias berbuat apa pun yang Dia inginkan dan kehendaki di masa lalu atau pun yang akan datang, maka dia tentu merasa terdorong untuk bersandar dan bertawakal kepada-Nya.
Siapapun yang lebih mengetahui Allah dan sifat-sifat-Nya, maka tawakalnya lebih benar dan lebih kuat.
2.    Percaya kepada Allah
Percaya kepada Allah merupakan buah pengetahuan. Jika seseorang mengetahu Allah dengan sebenar-benarnya, tentu dia akan percaya kepada-Nya secara utuh, jiwanya menjadi tenang dan hatinya menjadi tentram.
Gambarannya adalah bercaya bahwa Dia lebih menyayangi hamba-hamba-Nya, melebihi rasa kasih saying orang tua kepada anaknya dan bahka Dia lebih santun terhadap mereka daripada kesantunan mereka terhadap dirinya sendiri. Dia lebih mengetahui kemaslaha-tan mereka daripada pengetahuan mereka sendiri.
Gambaran lain adalah percaya kepada janji yang disebutkan Allah di dalam Kitab-Nya, bahwa Dia adalah pelindung orang-orang yang beriman, pendukung dan penyelamat mereka. Dia senantiasa bersama mereka untuk memberi pertolongan dan Dia tidak akan mengingkari janji.
Gambaran lain adalah percaya kepada jaminan rezki yang diberikan kepada makhluk-Nya.
“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi rezki, Yang Mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.” (QS. Adz-Dzariyat:58)
3.    Mengetahui Diri Sendiri dan Kelemahannya
Orang yang jauh dari tawakal adalah yang terperdaya oleh keadaan dirinya sendiri, yang mengagumi ilmunya, yang bangga dengan kekuatannya, yang tertipu dengan kekayaan yang dimilikinya, yang mengira bahwa dia tidak lagi membutuhkan Allah.
“Ketahuilah, sesungguhnya manusia itu benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (QS. Al-Alaq’:6-7)
Tawakal bias digambarkan dari orang yang merasa membutuhkan kepada pelindung dan tidak mungkin baginya untuk tidak membutuhkannya sekalipun hanya sekejap mata.
4.    Mengetahui Keutamaan Tawakal
“Dan, barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq:3)
5.    Hidup bersama Orang-orang yang Bertawakal

Jaga Diri Jangan Pacaran

-- DISKUSI SEPUTAR PACARAN --

Suatu hari seseorang yang suka pacaran berdialog seputar pacaran

Aktivis : Mas jangan pacaran lagi...
Mase : Kenapa? Pacaran kan asyik.... Menyenangkan.

Aktivis : Nih saya kasih baju rombeng..
Mase : Eh, Gak ah nanti badanku gatal-gatal..

Aktivis : Nah seperti itulah pacaran, "Kamu hanya menjadikan dirimu sebagai barang rombeng/barang bekas...udah gak baru lagi, udah gak sehat..
Mase : Tapi kan saya rencana mau langgeng sama dia sampe nikah..

Aktivis : *sambil mengambil sepotong kue lalu di ludahinya lalu dimakannya
Mase : Eh, Jorok banget kamu, ustadz kok jorok..

Aktivis : Tapi kan buat saya makan sendiri.
Mase : Ya tetep joroklah, dasar jorok.

Aktivis : Seperti itulah kamu, meskipun kamu hendak menikahi pacarmu, tapi kamu sudah berbuat hina terlebih dahulu dengan mengotorinya, meludahinya!
Mase : Tapi kan tujuan saya baik supaya bisa nikah???

Aktivis : Ayo ikut saya ke perpustakaan, Saya mau bayar SPP
Mase : Jadi ustadz kok bego sih, Mana ada orang bayar spp lewat perpustakaan, Harusnya ke bank

Aktivis : Tapi kan tujuan saya baik, mau bayar SPP
Mase : Iya tapi ada jalurnya sendiri-sendiri yang sudah di tetapkan sama kampus, jangan di rubah-rubah

Aktivis : Nah seperti itulah kamu, meskipun tujuan kamu baik, tetap salah, karena jalur yang kamu tempuh salah!
Mase : Terus jalurnya gimana?

Aktivis : Khitbah, datangi ortunya minta baik2, jujur apa adanya, tetapkan tanggal pernikahan dan nikahlah, semoga Allah ridha, dan selama pernikahan belum dilaksanakan maka jangalah berkhalwat, jaga diri baik-baik.

#PesanSesamaJomblo

Manusia sombong adalah Manusia yang tidak pernah belajar dari kesalahan di masa lalu.

Manusia bodoh adalah Manusia yang jatuh kedua kali di lubang yang sama.

Manusia yang merugi adalah Manusia yang menyia-nyiakan kesempatan yang datang dari Rabbnya untuk bertaubat.

Manusia yang kalah adalah yang berputus asa dari Rahmat-Nya.

Manusia yang tak akan pernah bisa bangkit adalah Manusia yang Bodoh dan malas.

Perkataan yang tidak saya sukai dari mulut yang bernama manusia adalah
Apakah Allah mengampunkan saya jika taubatan nasuha?

Apa Allah mau menerima taubat saya?apa saya pantas untuk menjadi lebih baik?
dan bla..bla..bla..."

Ketika engkau ragu akan Tuhanmu maka perkuatlah keyakinanmu kepada-Nya,
Lakukanlah perkara yang diperintahkan-Nya maka engkau akan tahu jawabannya.
Kawan, ingatlah Ampunan Allah sungguh lebih luas daripada amarah-Nya.
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1444850742459626&set=a.1390540287890672.1073741828.100008041423670&type=1&theater

Takabur

SOMBONG atau takabur (takabbur) adalah sifat hati yang terkeji (madzmumi) dan merupakan satu daripada penyakit hati yang membawa akibat kebinasaan diri. Pengertian tentang takabur dapat difahami dari maksud beberapa hadist yang berikut :
1. Rasulullah bersabda, "Dianggap sebagai takabur itu ialah menolak apa yang benar dan mengaggap hina kepada orang lain". (HR. Muslim).
2. Bersabda Rasulullah S.A.W kepada sahabatnya, Abu Dzar : "Takabur itu meninggalkan kebenaran dan engkau mengambil selain kebenaran. Engkau melihat orang lain dengan pandangan bahwa kehormatannya tidak sama dengan kehormatanmu, darahnya tidak sama dengan darahmu".
3. Rasulullah S.A.W bertanya kepada sekumpulan Sahabat, "Tahukah kamu, orang gila yang sebenar-benarnya?" Para Sahabat menjawab, "Tidak tahu, ya Rasulullah". Lalu Rasulullah menjelaskan, "Orang gila ialah orang yang berjalan dengan takabur, memandang rendah kepada orang lain, membusungkan dada, mengharapkan syurga sambil membuat maksiat dan kejahatannya membuat orang tidak aman dan kebaikanya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya".

    Berdasarkan kisah di dalam al-Qur'an, makhluk yang pertama yang diserang dan menjadi mangsa penyakit takabur ialah Iblis (la'natullah). Walaupun diperintah oleh Allah SWT, Iblis enggan menghormati Adam a. s (manusia dan nabi Allah yang pertama) karena dia menganggap dirinya lebih mulia daripada Adam. Katanya, "Aku lebih baik daripadanya (Adam). Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan daripada tanah" (QS 7:12).

    Iblis lalu dilaknat oleh Allah SWT karena sifat takaburnya itu. Sekurang-kurangnya dua akibat kecelakaan yang menimpa Iblis karena ketakaburnya :
1. Ia dimasukkan ke dalam golongan kafir. Allah Taala berfirman : Ia (Iblis) enggan dan menyombong diri (takabbur) dan ia termasuk golongan yang kafir (QS 2:34).
2. Ia dimasukkan ke dalam golongan orang yang terhina dan tidak layak tinggal di syurga. Allah berfirman : Turunlah engkau dari syurga itu karena tidak patut (tidak layak) bagimu menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah. Sesungguhnya engkau termasuk orang-orang yang hina. (QS 7:13).

    Sifat takabur itu dapat dikenali dari tutur kata dan tingkah laku bersumber dari lintasan hati yang mengandung rasa tinggi atau besar diri di samping merendah-kan mertabat orang lain atau menolak kebenaran.

    Mengikut Abu Yazid: "Seorang hamba itu selama masih mempunyai sangkaan, bahwa antara makhluk ada orang yang lebih buruk atau lebih jahat amalannya daripada dirinya sendiri, maka orang itu bersifat takabur". Lalu Abu Yazid ditanya, "Kapan seseorang itu dapat disebut sebagai bertawadhuk(rendah hati)?" Abu Yazid menjawab, "Ketika ia tidak tahu bagaimana kedudukan serta keadaan dirinya sendiri". Lawan sifat takbur itu ialah tawadhuk (tawadhdhuk atau dhi'ah), yaitu lintasan rasa rendah dan hina diri, termasuk pernyataan lewat perbuatan dan lisan. Dengan menyuburkan sifat dan sikap merendah hati dan pasrah kepada Allah, seseorang akan dapat mencegah penyakit takabur dan juga ujub.

    Tawaduk itu adalah sifat hati yang terpuji (mahmudi). Sifat ini membawa kemuliaan. Orang yang berkenaan akan mendapat kedudukan (derajat) yang tinggi di sisi Allah. Rasulullah S.A.W bersabda, mafhumnya : Allah tidak akan memberi tambahan kepada seorang hamba karena gemar memberi maaf kecuali kemulian, dan tiada seorang pun yang merendahkan diri karena mengharapkan keridhaan Allah kecuali Allah akan memberi tingkat yang tinggi kepadanya (HR. Muslim).

    Takabur dan tawaduk masing-masing ada kalanya bersifat umum dan ada kalanya bersifat khusus. Orang yang merasakan tidak memadai dengan kerendahan atau kesederhanaan hidupnya dikatakan terjatuh ke dalam Takabur Umum. Sebaliknya, orang yang merasakan sudah berada dengan keperluan hidup sekadar yang ada, walaupun yang rendah atau sederhana mutunya, dia termasuk dalam tawaduk umum.

    Adapun Takabur Khusus bersifat tertutup, tidak mau menerima, malah tidak bersedia untuk menerima kebenaran dari orang lain. Lawannya ialah Tawaduk Khusus yang bersifat terbuka, sentiasa melatih diri untuk menerima kebenaran tanpa mengira ada orang yang membawa kebenran itu hina atau mulia.

    Untuk mempertahankan tawaduk umum, kita hendaklah sentiasa menginggati pengalaman pahit yang pernah menimpa diri kita sejak mula dilahirkan dan senantiasa menginsafi diri kita sebagai hamba Allah, sekurang-kurangnya sebagaimana yang dikatakan oleh ulama : "Asal kamu dari setitik mani (nuthfah) yang anyir. Akhir kamu menjadi bangkai (mayat) yang busuk. Dan, di antara keduanya, sepanjang hayat, kamu menanggung kekotoran (najis) di dalam perut kamu".

    Untuk mempertahan tawaduk khusus pula kita hendaklah sentiasa mengingati siksaan Allah Taala sebagai pembalasan, sekiranya kita menyeleweng daripada kebenaran dan berpanjangan di dalam kebatilan. Berbeda dengan sifat-sifat hati lain yang hanya mengotori amal ibadah dan memudaratkan perkara "cabang" saja dalam agama, takabur memudaratkan perkara "pokok", mengotori agama dan akidah. Sekurang-kurangnya takabur mengakibatkan empat mudharat :

1. Terhalang dari mendapat kebenaran dan buta mata hati dalam makrifat terhadap ayat-ayat yang mengandung pengertian tentang hukum dan hikmat Allah. Allah Taala berfirman, mafhumnya: Aku akan memalingkan mereka dari ayat-ayat-Ku orang yang menyombongkan dirinya (takabur) di muka bumi tanpa alasan yang benar. (QS 7:146)
Demikianlah Allah menguncikan hati setiap orang yang takabur lagi sewenang-wenang. (QS 40:35)

2. dimurkai dan dibenci oleh Allah Taala, sebagaimana firman-Nya yang bermaksud : Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang yang membesarkan dirinya (takbur). (QS 16:23)
Diriwayatkan : Nabi Musa a. s telah bertanya kepada Allah, "Hai, Tuhanku. Siapakah di antara makhluk-Mu yang paling Engkau murkai?". Allah Taala berfirman, mafhumnya: Orang takbur hatinya, kasar lidahnya, terkelip-kelip matanya, bakhil tangannya dan jahat perangainya".

3. Mendapat kehinaan dan siksaan di dunia sebelum di akhirat. Bersyair Khatimul-Asham, "Jauhkan dirimu dari mati dalam tiga keadaan, yaitu takabur, loba dan ujub. Sesungguhnya, orang yang takabur itu tidak dikeluarkan oleh Allah Taala dari dunia sehingga dia diperlihatkan dulu penghinaan ke atasnya kepada sekurang-kurangnya keluarganya sendiri. Orang yang loba tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah merasa sangat memerlukan secuil roti dan seteguk air karena terlalu lapar dan dahaga tetapi tak lalu ditelannya. Dan, orang yang ujub juga tidak dikeluarkan dari dunia melainkan setelah diperlihatkan dirinya bergelimang dengan air kencing dan tahinya sendiri".
Gambaran penghinaan di akhirat pula terdapat dalam hadist dari Abu Hurairah r. a. Katanya, Rasulullah bersabda : "Orang-orang yang sombong, keras kepala dan takabur, akan dikumpulkan pada hari kiamat seperti kumpulan semut, dipijak-pijak oleh manusia karena hinanya mereka di sisi Allah Ta'ala".

4. Disiksa di akhirat dan dimasukkan ke dalam neraka, sebagaimana firman Allah Taala (tersebut dalam Hadis Qudsi), mafhumnya: Kebesaran itu selindang-Ku dan 'adzmat (keagungan) itu kainku. Sesiapa merebut salah satu daripada yang dua itu, Aku masukkan dia ke neraka Jahannam.

    Rasulullah bersabda : "Tiada akan masuk syurga orang yang ada di dalam hatinya seberat biji S.A.Wi daripada sifat takabur" (HR. Muslim). Mengikut hadist yang lain, Rasulullah bersabda : "Wahai Abu Dzar, barangsiapa mati dalam keadaan hatinya ada sebesar debu sahaja dari sifat takabur, dia tidak akan tercium bau syurga kecuali bila bertaubat sebelum maut menjemputnya".

    Biasanya faktor yang menimbulkan rasa takbur di hati seseorang itu ialah sesuatu kelebihan atau keistimewaan yang dimilikinya. Banyak faktornya. diantaranya sebagaimana yang dilantunkan oleh Imam al-Ghazali, yiaitu : Ilmu, ibadah / amal, keturunan, kejelitaan atau ketampanan rupa paras, kekayaan harta benda, kekuasaan / kekuatan dan banyak pengikut / kaum keluarga.
Demikianlah, memang sudah jelas sekali, sebagaimana yang telah berlaku. Iblis menjadi takabur karena faktor keturunannya (asal kejadiannya), Fir'aun karena kekuasaannya dan Qarun karena hartanya. Jadi, sesiapa yang memiliki kelebihan atau keistimewaan dalam hal-hal yang tersebut, hendaklah berhati-hati agar tidak terhanyut di lautan ghaflah atau menjadi lupa daratan sehingga hatinya dihinggapi penyakit takabur. Wallahu a'lam.

KIAT RASULULLAH S.A.W


Petikan dari buku Cara Rasulullah S.A.W. menghindari dan menyembuhkan Penyakit
(Disusun Oleh : Ibnu Qaiyum)

PENYEBAB RUSAKNYA BADAN, Perkara yang menyebabkan rusaknya badan yaitu perasaan cemas, gelisah, lapar dan tidak tidur malam (bukan tujuan qiyamullail)

MENERANGKAN PENGLIHATANPerkara yang bisa menerangkan pandangan dan menyejukkan hati yaitu melihat pada warna hijau, melihat air yang mengalir, melihat orang/barang yang disayangi dan melihat dedaunan.
Perkara yang bisa menggelapkan pandangan yaitu berjalan tanpa alas kaki (berkaki ayam), menyambut waktu pagi dengan wajah murka (masam), banyak menangis dan banyak membaca tulisan yang kecil-kecil.

PENYEBAB WAJAH BERSINAR, Perkara yang bisa menyebabkan wajah kelihatan kering (hilang cahaya) yaitu berdusta, tidak mempunyai perasaan malu, banyak bertanya tanpa ilmu dan banyak berbuat dosa.
Perkara yang bisa menyebabkan wajah bersinar yaitu menjaga marwah, jujur, dermawan dan takwa.

PERASAAN BENCI, Perkara yang menyebabkan perasaan benci yaitu sombong, dengki, berdusta dan suka mengadu domba.

PERKARA YANG MENDATANGKAN DAN MENGHALANGI REZEKI, Perkara yang bisa menyebabkan datangnya rezeki yaitu Qiyamullail (beribadah di waktu malam setelah tidur), banyak membaca istighfar di waktu sahur (waktu sebelum masuk waktu subuh), bersedekah dan berzikir di waktu pagi dan petang.
Perkara yang menyebabkan rezeki terhalang yaitu tidur di waktu pagi, sedikit mengerjakan sholat, malas dan khianat.

KEFAHAMAN DAN DAYA INGAT, Perkara yang bisa menyebabkan rusaknya ingatan dan kefahaman yaitu senantiasa makan buah yang masam, tidur pada tengkuk (belakang kepala), hati sedih dan fikiran cemas. 
Perkara yang menyebabkan bertambahnya daya ingatan dan kefahaman yaitu kegembiraan hati, sedikit makan dan sedikit minum, mengawali makanan dengan sesuatu yang manis dan berlemak serta mengurangi kelebihan yang memberatkan badan.


BAGAIMANAKAH RASULULLAH S.A.W.

1. MAKAN
Nabi S.A.W. makan menggunakan tangan kanan. Sewaktu makan, baginda menggunakan 3 jari dan sesudah makan jari-jarinya dihisap sebelum membersihkannya.
Baginda makan menggunakan suapan yang kecil, berhati-hati hingga makanan tidak terjatuh dari dulang atau tempat hidangan.

Baginda sering bertanya apakah hidangan makanan itu berbentuk hadiah atau sedekah. Bila makanan itu berbentuk sedekah, baginda tidak memakannya dan menyuruh sahabat makan tetapi bila makanan itu berbentuk hadiah, baginda akan turut makan bersama. (Riwayat Bukhari, Muslim, Nasaai dari Abu Hurairah)

2. TIDUR
Apabila Nabi S.A.W. merebahkan diri di tempat tidur, baginda sering berdoa yang artinya : "Alhamdulillah yang telah memberi kami makan, minum, tempat perlindungan dan keperluan hidup karena masih banyak yang kurang makan, minum dan tidak mempunyai tempat tidur. " (Riwayat Bukhari Muslim, Abu Daud, Termizi dan Nasaai dari Anas)
Di waktu Nabi S.A.W. hendak tidur, baginda meletakkan tangan kanannya dibawah pipi kanan baginda. (Riwayat Thabarany dari Hafshah)

Sebelum Nabi S.A.W. memejamkan mata, baginda berdoa yang artinya : "Ya Allah, dengan namaMu aku hidup dan dengan namaMu aku mati. "
Bila bangun dari tidur, baginda mengucapkan: "Alhamdulillah yang menghidupkan kami sesudah kami dimatikan dan kepadaNya kami akan kembali berkumpul, " (Riwayat Ahmad, Muslim dan Nasaai dari al-Barraaq).

3. MARAH
Kemarahan Nabi S.A.W. adalah karena kebenaran, artinya karena kebenaranlah baginda melahirkan kemarahannya.
Nabi S.A.W. marah dengan cara sopan, sesuai dengan do'anya ini, yaitu: "Aku mohonkan kepada Engkau kalimat kebenaran pada saat marah dan suka. "

      Maksudnya, Rasulullah S.A.W. tidak berkata kecuali yang benar saja begitu juga waktu marah atau waktu tidak marah. Kemarahan Rasulullah S.A.W. karena ada perkara yang tidak disukai yang menyalahi dari yang benar sebagaimana yang diajarkan agama atau yang terang-terangan dilarang oleh agama.
[Kitab Matan al-Arba'in - Sheikh Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syirfuan-Nawawi]

Imam Ghazali berkata: "Kemarahan manusia bermacam-macam. Setengahnya lekas marah, lekas tenang dan lekas hilang. setengahnya lambat marah, lambat pula redanya. Setengahnya lambat akan marahnya dan lekas pula hilangnya. Yang akhir inilah yang terpuji. "

4. KETAWA
Bila nabi S.A.W. ketawa, baginda akan meletakkan tangan di mulut baginda dan bila terjadi sesuatu yang mengembirakan, baginda akan mengucap syukur kepada Allah. Bila bercakap-cakap, baginda sentiasa tersenyum. (Riwayat Abu Daud dan Abu Musa)

5. WARNA dan PAKAIAN KESUKAAN
Warna yang disukai nabi S.A.W. ialah hijau dan pakaian yang digemari ialah habarah seperti kemeja panjang berwarna putih. (Riwayat Bukhari Muslim)

PROFIL PRIBADI MUSLIM

Al-Qur'an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah Saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan pribadi muslim. Pribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur'an dan sunnah adalah pribadi yang shaleh, pribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt.
            Persepsi masyarakat tentang pribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah pribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus lekat pada pribadi seorang muslim. Oleh karena itu standar pribadi muslim yang berdasarkan Al-Qur'an dan sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan pribadi muslim.
            Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada pribadi muslim.
1. Salimul Aqidah
            Aqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam' (QS 6:162).
Karena memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da'wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.
2. Shahihul Ibadah.
            Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: 'shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.' Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
1.            Matinul Khuluq.
            Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.
Karena begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al-Qur'an, Allah berfirman yang artinya: 'Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung' (QS 68:4).
2.            Qowiyyul Jismi.
            Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya.
            Oleh karena itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Karena kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: 'Mu'min yang kuat lebih aku cintai daripada mu'min yang lemah' (HR. Muslim).
3.            Mutsaqqoful Fikri
            Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi pribadi muslim yang penting. Karena itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur'an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: 'pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.' Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: 'Yang lebih dari keperluan.' Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219).
            Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Karenanya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu.
            Oleh karena itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah: “samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui?”, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).
4.            Mujahadatul Linafsihi.
            Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatul linafsihi) merupakan salah satu kepribadian yang harus ada pada diri seorang muslim, karena setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu.
            Oleh karena itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
5.            Harishun Ala Waqtihi.
            Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini karena waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya.
            Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Karena itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: 'Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.' Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi.
            Oleh karena itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
6.            Munazhzhamun fi Syuunihi.
            Teratur dalam suatu urusan (munzhzhamun fi syuunihi) termasuk kepribadian seorang muslim yang ditekankan oleh Al-Qur'an maupun sunnah. Oleh karena itu dalam hukum Islam, baik yang terkait dengan masalah ubudiyah maupun muamalah harus diselesaikan dan dilaksanakan dengan baik. Ketika suatu urusan ditangani secara bersama-sama, maka diharuskan bekerjasama dengan baik sehingga Allah menjadi cinta kepadanya.
            Dengan kata lain, suatu urusan dikerjakan secara profesional, sehingga apapun yang dikerjakannya, profesionalisme selalu mendapat perhatian darinya. Bersungguh-sungguh, bersemangat dan berkorban, adanya kontinyuitas dan berbasih ilmu pengetahuan merupakan diantara yang mendapat perhatian secara serius dalam menunaikan tugas-tugasnya.
7.            Qodirun Alal Kasbi.
            Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya karena tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kareitu pribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh karena itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur'an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi.
            Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, karena rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.
8.            Nafi'un Lighoirihi.
            Bermanfaat bagi orang lain (nafi’un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya karena bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya.
            Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir).
Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.


MUSNAHKAN SIKAP AROGAN

Yang memakan habis seluruh kebaikan

Nabi S.A.W bersabda: "Hati-hatilah kamu sekalian terhadap hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad akan memakan habis seluruh kebaikan sebagaimana api melalap habis kayu bakar" (HR Abu Daud) 

Dalam surat Al-Falaq, Allah memerintahkan kaum beriman untuk memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki. Arti al-hasad atau dengki adalah mengharapkan kenikmatan yang dimiliki oleh orang lain lenyap. Adapun apabila hanya mengharapkan mempunyai kenikmatan yang serupa tanpa dibarengi dengan harapan agar nikmat itu lenyap dari tangan orang lain, hal ini bukan al-hasad, melainkan ghibthah dan munafasah (persaingan yang sehat). 
Akan tetapi, terkadang kata al-hasad diartikan juga al-ghibthah. Apabila demikian, berarti mengandung arti yang positif. Hal seperti ini dianggap sebagai hal yang terpuji dalam dua keadaan, yaitu sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadits Rasulullah S.A.W : 
"Tiada iri hati (yang diperbolehkan) [laa hasada] selain hanya dalam dua hal, yaitu seseorang yang diberi oleh Allah harta, lalu dia membelanjakannya untuk hal yang hak, dan seorang lelaki yang diberi oleh Allah ilmu, lalu dia mengamalkannya dengan konsekuen dan mengajarkannya (kepada orang lain)" (HR Bukhari). 

Dengki adalah sifat buruk yang harus diwaspadai oleh setiap muslim. Sifat ini tidak pantas menyertai seorang muslim yang berimana pada Allah, Rasul, dan hari akhir. 
Salah satu ciri khas seorang muslim yang benar adalah jiwa yang bersih dari sifat menipu dan dengki, dan dari menyalahi janji dan dendam kesumat. Kebersihan jiwalah yang mendorong seorang manusia ikhlas menghamba kepada Allah, beribadah, menegakkan shalat, dan bermunajat pada malam hari, berpuasa di siang hari. (HR Ahmad) 

Dalam salah satu riwayat, diceritakan bahwa Rasulullah S.A.W pernah menyebutkan seorang sahabat Anshor sebagai "seorang dari penghuni surga".
Abdullah bin Amru yang ingin mengetahui amalan sahabat Ansor tersebut, meminta izin untuk tinggal di rumahnya selama tiga hari. Abdullah tidak menemukan amalan yang istimewa, dia tidak sekalipun melihat lelaki itu melakukan shalat malam, kecuali bahwa setiap lelaki itu berbalk dalam tidurnya, dia menyebutkan nama Allah. 
Akhirnya Abdullah bin Amru menanyakan apa sebabnya lelaki tersebut bisa mencapai derajat seperti yang dikatakan Rasulullah tsb. Dia menjawab: "tidak ada yang saya kerjakan selain apa yang telah kau perhatikan, tetapi tidak tersimpan sedikitpun dalam hatiku keinginan untuk menipu seorangpun dari kaum muslimin atau menaruh dengki padanya atas kebaikan yang dikaruniakan Allah kepadanya." Kemudian Abdullah berakata "Inikah yang telah mengangkat derajatmu setinggi itu?!" 

Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa Rasulullah S.A.W bersabda: 
"Ada tiga hal yang menjadi akar semua dosa. Jagalah dirimu dan waspadalah terhadap ketiganya. 
(1) Waspadalah terhadap kesombongan, sebab kesombongan telah menjadikan iblis menolak bersujud kepada Adam.
(2) Waspadalah terhadap kerakusan, sebab kerakusan telah menyebabkan Adam memakan buah dari pohon terlarang. 
(3) Dan jagalah dirimu dari dengki, sebab dengki telah menyebabkan salah seorang anak Adam membunuh saudaranya  (HR Ibnu Asakir) 

Muawiyah berkata, "Tidak ada sifat-sifat kejahatan yanglebih tegak daripada dengki. Orang yang dengki binasa sebelum orang yang didengkinya."
Dikatakan bahwa Musa as melihat seornag manusia di dekat 'Arasy. karena Musa ingin menempati kedudukan itu, beliau beranya, "Apa amalnya?" Pertanyaan itu dijawab, "Ia tidak pernah dengki terhadap manusia karena anugerah Allah swt kepadanya."
Umar bin Abdul Aziz menegaskan, "Aku tidak pernah melihat orang yang lebih zalim yang sama dengan kezaliman pendengki. Sebab ia senantiasa berada dalam keadaan sengsara dan nafas sesak."

MENYEBARKAN SALAM

1.a.   Dustur Ilahi (kewajiban salam) :

o    Salam harus diucapkan kepada orang beriman :
“Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: “Salaamun-alaikum” (mudah-mudahan Allah melimpahkan kesejah-teraan atas kamu)…” (QS. Al An’aam 6:54)
o    Bila diberi penghormatan, balaslah dengan penghormatan yang lebih baik :
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah selalu membuat perhitungan  atas tiap-tiap sesuatu” (QS. An Nisaa’ 4:86)
[Penghormatan dlm Islam ialah dengan mengucapkan “Assalaamu’alaikum”]

1.b.   Keutamaan Salam

Abdullah bin Amru bin Al-Ash r.a. berkata: Seorang bertanya kepada Nabi saw. :Apakah yang terbaik dalam Islam? Jawab Nabi: Memberi makanan dan memberi salam terhadap orang yang kau kenal atau tidak kau kenal.” (HR. Bukhari, Muslim)
Abu Imaroh (Al-Barra’) bin Azib r.a. berkata: Rasulullah menyuruh kami dengan tujuh macam: Menjenguk = menengok orang sakit, menghantarkan jenazah, mendo’akan orang bersin jika membaca Alhamdulillah, menolong orang yang lemah, membantu orang teraniaya, menyebarkan salam, menepati (melaksanakan) sumpah. (HR. Bukhari, Muslim)
Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. berkata: Kamu tidak akan masuk sorga hingga beriman (percaya), dan kamu tidak beriman hingga kasih sayang kepada sesama. Sukakah saya tunjukkan sesuatu jika kamu kerjakan timbul kasih saying di antara kamu. Sebarkanlah Salam di antara kamu.” (Muslim)
Aththufail bin Ubay bin Ka’ab biasa datang ke tempat Abdullah bin Umar, maka pergi bersama-sama ke pasar. Maka jika kami telah berada di pasar tiada Abdullah melalui orang rombeng, atau penjual di took, atau orang miskin, bahkan ketemu dengan siapa saja kecuali ia memberi salam. Aththufail berkata: Maka pada suatu hari saya datang ke rumah Abdullah bin Umar, lalu ia mengajak saya ke pasar. Saya bertanya: Untuk apakah kau ke pasar, sedang kau tidak akan membeli apa-apa, juga tidak perlu menanyakan harga barang, atau menawar, bahkan tidak duduk di pasar, maka lebih baik kita duduk-duduk di sini bercakap-cakap. Jawab Abdullah: Ya Aba Bathnin, kami akan ke pasar hanya untuk memberi salam kepada orang-orang yang bertemu (ke pasar untuk menyebarkan salam)” (Malik dalam kitab Almuwatho’)

1.c.  Cara memberi salam

Sunnat bagi yang memberi salam mengucap :
-          Assalamu’alaikum, dan yang menjawabnya minimal mengucapkan Wa’alaikum salam, jika ingin lebih baik lagi jawablah Wa’alaikum salam warahmatullah, dan jika ingin jauh lebih baik lagi jawablah Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
-          Assalamu’alaikum warahmatullah, dan yang menjawabnya minimal mengu-capkan Wa’alaikum salam warahmatullah, jika ingin lebih baik lagi jawablah Wa’alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.
-          Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Imron bin Hushoin ra. berkata: Seorang datang kepada Nabi saw. dan mengucapkan Assalamu’alaikum. Maka dijawab oleh Nabi saw. kemudian ia duduk. Nabi bersabda: Sepuluh. Kemudian datang pula lain orang memberi salam :Assalamu’alaikum warahmatullah. Dan setelah dijawab oleh Nabi saw. Ia duduk. Nabi pun berkata: Dua puluh. Kemudian orang ketiga datang dan mengucapkan :Assalamu’alaikum warahmatullah wabarokatuh. Maka dijawab oleh Nabi saw. dan Nabi berkata: Tiga puluh. (Abu Dawud, Attirmidzi)

1.d.  Aturan salam :

Abu Hurairah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Orang yang berkenda-raan memberi salam kepada yang berjalan, dan yang berjalan memberi salam kepada yang duduk. Dan rombongan yang sedikit memberi salam kepada yang banyak. (Bukhari, Muslim)
Dalam riwayat Bukhari : Dan yang kecil memberi salam kepada yang besar
Abu Umamah Albahily r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Seutama-utama manusia bagi Allah ialah yang mendahului memberi salam. (HR. Abu Dawud, Attirmidzi)

Abu Umamah ra. berkata: Seorang bertanya: Ya Rasulullah kalau dua orang bertemu muka yang manakah di antara kedua yang harus mendahului memberi salam ? Jawab Nabi: Yang lebih dekat kepada Allah. (Attirmidzi)

1.e.   Sunnat Mengulangi Salam Jika Berulang Bertemu

Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Jika bertemu salah satu kamu kepada saudaranya hendaknya memberi salam, kemudian jika terpisah antara keduanya oleh pohon atau dinding atau batu, kemudian bertemu kembali hendaknya memberi salam. (Abu Dawud)

1.f.   Sunnat Salam Jika Masuk Rumah

Firman Allah :
“Jika kamu masuk ke rumah, maka hendaknya memberi salam pada dirimu, itu sebagai kesejahteraan dari Allah yang berkat dan baik”
Anas ra. berkata: Rasulullah saw. mengajarkan kepada saya: Hai anak, jika kamu masuk ke rumah keluargamu, hendaknya memberi salam, supaya menjadi berkat untuk kamu dan keluargamu. (Attirmidzi)

1.g.  Haram Mendahului Orang Kafir dengan Salam

Haram Mendahului Orang Kafir dengan Salam dan Cara Menjawab Salam Mereka dan Sunnat Memberi Salam pada Majlis yang Campur Muslim dengan Kafir
Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Jangan mendahului orang Yahudi atau Kristen dengan salam … “ (Muslim)
Anas ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: jika orang-orang ahli kitab memberi salam kepada kamu, maka jawablah: Wa alaikum. (Bukhari, Muslim)
Usamah ra. berkata: Rasulullah saw. berjalan melalui majlis yang menghim-pun orang Muslimin, Musyrikin penyembah berhala dan Yahudi. Maka Nabi saw. memberi salam kepada mereka. (Bukhari, Muslim)

1.h.  Sunnat Salam Jika Akan Meninggalkan Majlis

Abu Hurairah ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Apabila sampai salah satu kamu ke majlis, hendaknya memberi salam, dan bila bangun akan meninggalkan majlis harus mengucapkan salam. Bukan yang pertama itu lebih layak (baik) dari yang kedua. (Abu Dawud, Attirmidzi)

1.i.    Berjabat tangan, Bermuka manis

Sunnat Berjabat Tangan, Bermuka Manis dan Mencium Tangan Orang Salih dan Anak, dan Mendekap Orang Baru Datang dari Bepergian, dan Makruh Merendahkan Diri
‘Al-Barra’ ra. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Tiada dua orang muslim yang bertemu lalu berjabat tangan, melainkan diampunkan dosa keduanya sebelum berpisah.” (Abu Dawud)
Shofwan bin Assal ra. berkata: Seorang Yahudi berkata kepada temannya: mari kita pergi kepada Nabi itu. Maka pergilah keduanya kepada Rasulullah saw. dan menanyakan tentang sembilan ayat. Dan setelah dijawab oleh Nabi saw. Mereka lalu mencium tangan dan kaki Nabi sambil berkata keduanya: Kami bersaksi bahwa Engkau benar-benar Nabi. (Attirmidzi)
Ibnu Umar ra. bercerita yang akhirnya ia berkata: Maka kami mendekat kepada Nabi saw. dan mencium tangannya. (Abu Dawud)
Aisyah ra. berkata: Zaid bin Haritsah datang ke kota Madinah sedang Rasulullah berada di rumahku, kemudian Zaid mengetuk pintu, maka Nabi pun segera bangun menyambutnya dengan menyeret kainnya, kemudian mendekap dan memeluknya. (Attirmidzi)
Abu Dzar ra. berkata: Rasulullah saw. berkata kepada saya: Janganlah meremehkan suatu kebaikan, walau sekedar menghadapi teman dengan muka yang manis. (Muslim)
Maraji’
Imam Nawawy : Riadhus Shalihin


MENGENDALIKAN SYAHWAT

“Jangan kamu dekat-dekat pada perzinaan, karena sesung-guhnya dia itu perbuatan yang kotor dan cara yang sangat tidak baik.” (QS. Al-Isra’:32)
Sahl bin Sa’d berkata: Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang menjamin untukku apa yang ada diantara dua janggutnya dan dua kakinya maka aku menjamin untuknya sorga.” (HR. Bukhari)

1.a.   Menjaga kemaluan

Adab berpakaian dalam Islam :
1.    Hendaknya ikhwan menahan seluruh auratnya dan demikian juga dengan akhwat.
 “Katakanlah kepada orang-orang mu’min laki-laki: hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangan-nya dan menjaga kemaluannya; karena yang demikian itu lebih bersih bagi mereka. Sesungguhnya Allah Mahameneliti terhadap apa-apa yang kamu kerjakan. (An-Nur : 30)
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah Menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda Kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al-A’raf 7:26)
Tidak boleh menggunakan pakaian yang membentuk dan tipis sehingga menampilkan aurat.
“Sesungguhnya termasuk ahli neraka, yaitu perempuan-perempuan berpakaian tetapi telanjang, yang condong kepada maksiat dan menarik orang lain untuk berbuat maksiat. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya.” (Riwayat Muslim)
2.    Tidak berpakaian dengan maksud sombong
Rasulullah saw. bersabda: Allah tidak melihat dengan pan-dangan rahmat terhadap orang yang menurunkan sarung lebih dari mata kaki karena sombong.” (HR. Bukhari, Muslim)

3.    Ikhwan tidak menyerupai akhwat dan demikian sebaliknya
Rasulullah saw. pernah menghitung orang-orang yang dilaknat di dunia ini dan disambut juga oleh Malaikat di antaranya ialah laki-laki yang memang oleh Allah dijadikan betul-betul laki-laki, tetapi dia menjadikan dirinya sebagai perempuan dan menyerupai perempuan, dan yang kedua, ialah perempuan yang memang dicipta oleh Allah sebagai perempuan betul-betul, tetapi kemudian dia menjadikan dirinya sebagai laki-laki dan menyerupai laki-laki (HR. Thabarani)
4.    Ikhwan tidak menggunakan perhiasan emas dan sutra
Umar bin Alkhotthob r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda: Kamu jangan memakai sutra. Maka siapa yang memakainya di dunia, tidak akan memakainya di akherat. (Bukhari, Muslim)
Anas r.a. berkata: Rasulullah saw. telah mengizinkan bagi Azzubair dan Abdurrahman bin Auf memakai sutra karena keduanya menderita sakit gatal-gatal. (Bukhari, Muslim)
      Tujuannya adalah untuk pendidikan moral yang tinggi demi menjaga sifat keperwiraan laki-laki dari segala bentuk kelemahan serta untuk memberantas sifat bermewah-mewah.

5.    Tidak berpakaian seperti pakaian spesialis yang dipakai oleh orang-orang kafir seperti Yahudi, Kristen dan penyembah-penyembah berhala. Ummat ini baik yang laki-laki ataupun perempuan harus mempunyai ciri-ciri tersendiri baik dalam hal-hal yang nampak maupun tersembunyi.
“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia itu dari golongan mereka.” (Riwayat Thabrani)

1.b.   Menjaga pandangan

Adab pergaulan dalam Islam :
1.    Pergaulan hendaknya diniatkan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat 49:13)
2.    Hendaknya ikhwan menahan sebagian pandangannya dan demikian juga dengan akhwat.
      Hendaklah menundukkan pandangan dari apa yang diharamkan oleh Allah SWT. Karena pandangan dapat membangkitkan nafsu birahi dan merangsang pelakunya untuk terjerumus ke dalam dosa dan ma’shiat. Oleh karena itu Al-Qur’an memberikan peringatan keras terhadap pandangan liar.
“Katakanlah kepada orang-orang Mu’min : “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; dan demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An Nur [24]:30)
      Sabda Rasulullah saw :
“Pandangan itu merupakan salah satu anak panah iblis”
Dua mata itu berzina dan zinanya mata ialah melihat” (HR. Bukhari)
Salah satu keringanan Islam adalah Dia membolehkan melihat yang sifatnya mendadak pada bahagian yang seharusnya tidak boleh.
“Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata: Saya bertanya kepada Rasulullah saw. tentang melihat dengan mendadak. Maka jawab Nabi: Palingkanlah pandanganmu itu!” (HR. Muslim)
“Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang berikutnya tidak boleh.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi)
Perempuan melihat laki-laki tidak pada auratnya, hukumnya mubah, selama tidak diikuti dengan syahwat atau tidak dikuatirkan akan menimbulkan fitnah.
Sebagian ulama yang extrimis menganggap, bahwa perempuan sama sekali tidak boleh melihat anggota laki-laki yang manapun. Mereka membawa dalil hadis yang diriwayatkan oleh Nabhan bekas hamba Ummu Salamah, bahwa Rasulullah saw. pernah berkata kepada Ummu Salamah dan Maimunah yang waktu itu Ibnu Ummi Maktum masuk ke rumahnya. Nabi bersabda : pakailah tabir. Kemudian kedua isteri Nabi itu berkata: “Dia (Ibnu Ummi Maktum) itu buta!” Maka jawab Nabi: “Apakah kalau dia buta, kamu juga buta? Bukankah kamu berdua melihatnya?”
Tetapi dari kalangan ahli tahqiq (orang-orang yang ahli dalam penyelidikannya terhadap suatu hadits/pendapat) mengatakan: Hadis ini tidak sah menurut ahli-ahli Hadis, karena Nabhan yang meriwayatkan Hadis ini salah seorang yang omongannya tidak dapat diterima.
Kalau ditakdirkan hadis ini sahih, adalah suatu sikap kerasnya Nabi kepada isteri-isterinya karena kemuliaan mereka, sebagaimana beliau bersikap keras dalam persoalan hijab.
3.    Ikhwan tidak memegang akhwat dan demikian sebaliknya
Rasulullah saw. pernah bersabda sbb: “Sungguh kepala salah seorang diantara kamu ditusuk dengan jarum dari besi, lebih baik daripada dia menyentuh seorang perempuan yang tidak halal baginya.” (Riwayat Thabarani, baihaqi dan rawi-rawinya thabarani adalah kepercayaan)
Jauhi saja perempuan/laki-laki yang tidak menjaga adab ini.


4.    Ikhwan dan akhwat harus menjaga jarak; sebaiknya sebatas dimana mereka tidak mencium wewangian dari lawan jenisnya
“Siapa saja perempuan yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka perempuan tersebut dianggap berzina; dan tiap-tiap mata ada zinanya.” (Riwayat Nasa’i, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
5.    Tidak “berdua-duaan” baik dalam zhahir maupun batin.
Sebaiknya jika hendak melakukan pertemuan yang cukup lama, ikhwan membawa teman ikhwannya dan akhwat pun membawa teman akhwatnya. Teman disini ditujukan agar dapat mengingatkan jika dia bergaul melewati batas.
“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah saitan.” (Riwayat Ahmad)
6.    Segala bentuk pergaulan jika membangkitkan nafsu syahwat, maka itu adalah haram

1.c.  Mahram

Laki-laki hanya boleh melihat muka dan kedua telapak tangan perempuan yang memang ada rukhsah untuk dinampakkan. Larangan ini dikecuali-kan untuk 12 orang :
1.    Suami
2.    Ayah, baik dari pihak ayah ataupun ibu
3.    Ayah mertua
4.    Anak-anak laki-lakinya. Termasuk juga cucu, baik dari anak laki-laki ataupun dari anak perempuan
5.    Anak-anaknya suami.
6.    Saudara laki-laki, baik sekandung, sebapa atau seibu
7.    Keponakan.
8.    Sesama perempuan yang seagama baik yang ada kaitannya dengan nasab ataupun orang lain
9.    Hamba sahaya
10.  Keponakan dari saudara perempuan
11.  Orang-orang yang ikut serumah yang tidak ada rasa bersyahwat
12.  Anak-anak kecil yang tidak mungkin bersyahwat ketika melihat aurat perempuan

Maraji’
Yusuf Qardhawi, Halal dan Haram dalam Islam


Penyakit Lidah ( Selesai )

Penyakit Kesebelas: Berdusta dalam Perkataan dan Sumpah
“Sesungguhnya dusta membawa kepada kedurhakaan, sedangkan kedurhakaan menyeret ke neraka, dan sesungguhnya seseorang berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Nabi saw. bersabda :
“Aku (bermimpi) melihat seolah-olah ada orang yang datang kepadaku seraya berkata “bangunlah”, lalu aku bangkit bersamanya, kemudian tiba-tiba aku bertemu dua orang lelaki; yang satu berdiri sedangkan yang lain duduk. Di tangan orang yang berdiri ada pengait dari besi lalu menjejalkannya ke dagu orang yang dudul lalu menariknya hingga sampai ke pundaknya, kemudian ia menariknya lalu menjejalkannya ke sisi yang lain lalu memanjangkannya; apabila ia memanjangkannya maka sisi yang lain kembali seperti semula. Kemudian aku bertanya kepada orang yang membangunkan aku, ‘apa ini?’ Ia berkata, ‘Ini adalah seorang pendusta yang disiksa di kuburnya hingga hari kiamat’.” (HR. Bukhari)
            Rasulullah saw. bersabda dalam keadaan bersandar: “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar, yaitu menyekutukan Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” Kemudian Rasulullah saw. duduk dan bersabda: “Ketahuilah dan berkata dusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Sesungguhnya seorang hamba berdusta sekali sehingga malaikat menjauh darinya sejauh perjalanan satu mil karena busuknya apa yang diperbuatnya itu.” (HR. Tirmidzi)


Dusta yang Ditoleransi
      Maimun bin Mahran berkata, “Dusta dalam sebagian perkara lebih baik dari kejujuran. Bagaimanakah pendapatmu jika ada seseorang yang mengejar orang lain dengan membawa pedang untuk membunuhnya lalu orang yang dikejar itu masuk rumah, kemudian orang yang mengejar itu bertanya kepadamu ‘Apakah kamu melihat si Fulan?’. Apa yang akan Anda katakana? Tidakkah Anda menjawabnya, ‘Tidak tahu?’ Anda tentu tidak jujur kepadanya, tetapi kedustaan ini wajib Anda lakukan.
      Pembicaraan adalah sarana untuk mencapai tujuan. Setiap tujuan terpuji yang bisa dicapai dengan kejujuran dan kedustaan maka melakukan kedustaan dalam hal ini adalah haram. Jika bisa dicapai dengan kedustaan tetapi tidak bisa dicapai dengan kejujuran maka kedustaan dalam hal ini adalah mubah, jika pencapaian hal itu memang mubah, atau wajib jika pencapaian tujuan itu sendiri wajib dilakukan.
Dari Ummu Kultsum, ia berkata: Aku tidak pernah mendengar Rasulullah saw. memberikan keringanan dalam berdusta kecuali menyangkut tiga hal: Seseorang yang mengucapkan perkataan untuk tujuan perdamaian, seseorang yang mengucapkan perkataan dalam perang dan seseorang yang berbicara kepada istrinya atau istri yang berbicara kepada suaminya.” (HR. Muslim)
      Ketiga hal tersebut di atas merupakan pengecualian (untuk berdusta) yang disebutkan secara tegas, sedangkan hal-hal lain bisa disamakan dengannya jika terkait dengan tujuan yang benar.

Penyakit Keduabelar: Menggunjing (Ghibah)
“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati?” (al-Hujurat:12)
.”Setiap Muslim bagi Muslim yang lain haram darah, harta dan kehormatannya.” (HR. Muslim)
“Janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling bersaing, dan janganlah kalian saling membuat makar. Janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Bukhari dan Muslim)
      Para shahabat ra. saling bertemu dengan gembira dan tidak menggunjing bila saling berpisah. Mereka menganggap hal tersebut sebagai amal perbuatan yang paling utama sedangkan kebalikannya merupakan tradisi orang-orang munafiq.
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (al-Humazah:1)
      Ibnu Abbas berkata, “Apabila kamu hendak menyebut aib saudaramu maka ingatlah aib dirimu sendiri.”


Makna Ghibah dan Batasannya
      Ghibah ialah menyebut saudaramu dengan hal yang tidak disukainya seandainya ia mendengarnya, baik kamu menyebutkan dengan kekurangan yang ada pada badan (menyebut pendek, hitam dan semua hal yang menggambarkan sifat badannya yang tidak disukainya), nasab (mengatakan hina), akhlaq (mengataka buruk akhlaqnya, sombong, pengecut, dan lain sebagainya), perbuatan, perkataan, agama atau dunianya, bahkan pada pakaian, rumah dan kendaraannya.
Nabi saw. bersabda: “Tahukan kalian apa itu ghibah?” Sahabat menjawab, “Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui.” Nabi saw. bersabda: “Kamu menyebut saudaramu dengan hal yang tidak disukainya.” Ditanyakan, “Bagaimana jika apa yang aku katakana itu ada pada diri saudaraku itu?” Nabi saw. menjawab: “Jika apa yang kamu katakana itu ada pada dirinya maka sungguh kamu telah menggunjingnya dan jika tidak ada pada dirinya maka sungguh kamu telah menyebutkan hal yang dusta tentang dirinya.” (HR. Muslim)
Ghibah tidak Hanya Terbatas pada Lidah
      Isyarat, anggukan, picingan, bisikan, tulisan, gerakan dan semua hal yang memberi pemahaman tentang apa yang dimaksud, maka ia masuk ke dalam ghibah dan diharamkan.
      Contoh diantaranya adalah berjalan menirukan cara berjalannya. Ini adalah ghibah bahkan lebih berat dari ghibah dengan lidah, karena ia lebih kuat dalam penggambaran dan pemberian kesan.
      Bentuk ghibah lainnya adalah mendengarkan ghibah dengan mengaguminya, karena dengan memperlihatkan kekagumannya sesungguhnya dia telah mendorong semangat orang yang melakukan ghibah. Bahkan orang yang diam saja ketika mendengar ghibah sama dengan orang yang melakukan ghibah.
      Orang yang mendengar ghibah tidak terbebas dari dosa kecuali dengan mengingkari secara lisan atau dengan hatinya jika takut. Jika mampu melakukannya atau memotong omongannya dengan omongan lain tetapi dia tidak melakukannya maka dia berdosa.
“Siapa yang membela kehormatan saudaranya yang sedang dipergunjingkan, maka Allah akan membebaskannya dari api neraka.” (HR. Ahmad dan Thabrani)
Hal-hal yang Mendorong Ghibah
      Secara umum, pendorong ghibah terangkum dalam sebab-sebab berikut :
Pertama, melampiaskan kemarahan.
Kedua, menyesuaikan diri dengan kawan-kawan, berbasa-basi kepada teman dan mendukung pembicaraan mereka. Apabila mereka “berpesta” dengan menyebutkan aib orang, maka ia merasa kalau perbuatan mereka itu ditentang pasti mereka berkeberatan dan menjauhi dirinya. Karena itu ia kemudian mendukung mereka dan menganggap hal tersebut sebagai pergaulan yang baik dan basa-basi dalam persahabatan.
Ketigaingin mendahului menjelek-jelekkan keadaan orang yang dikhawatirkan memandang jelek ihwalnya di sisi orang yang disegani.
Keempat, keinginan bercuci tangan dari perbuatan yang dinisbatkan (disebutkan) kepada dirinya.
Kelimaingin membanggakan diri. Yaitu mengangkat dirinya dengan menjatuhkan orang lain. Misalnya berkata, “Si Fulan itu bodoh.” Maksud terselubung dari ucapannya ini adalah untuk mengukuhkan keunggulan dirinya dan memperlihatkan bahwa dirinya lebih tahu ketimbang orang tersebut.
Keenamkedengkian.
Ketujuhbermain-main, senda gurau, dan mengisi waktu kosong dengan lelucon.
Kedelapanmelecehkan dan merendahkan orang lain demi untuk menghinakannya. Penyebabnya adalah kesombongan dan menganggap kecil orang yang direndahkan itu.

Obat yang dapat Mencegah Lidah dari Ghibah
(a)   Mengetahui bahwa ghibah dapat mendatangkan kemurkaan Allah
(b)   Mengetahui bahwa ghibah dapat membatalkan kebaikan-kebaikannya di hari kiamat
(c)   Mengetahui bahwa ghibah dapat memindahkan kebaikan-kebaikannya kepada orang yang digunjingnya, sebagai ganti dari kehormatan yang telah dinodainya; jika tidak memiliki kebaikan yang bisa dialihkan maka keburukan-keburukan orang yang digunjingnya akan dialihkan kepadanya.
(d)   Jika hamba meyakini berbagai nash tentang ghibah niscaya lidahnya tidak akan melakukan ghibah karena takut kepada hal tersebut.
(e)   Akan bermanfaat juga jika dia merenungkan tentang dirinya. Jika mendapatkan cacat maka ia sibuk mengurusi cacat dirinya dan merasa malu untuk tidak mencela dirinya lalu mencela orang lain.
(f)    Akan bermanfaat baginya jika dia mengetahui bahwa orang lain merasa sakit karena ghibah yang dilakukannya sebagaimana dia merasa sakit bila orang lain menggunjingnya.
      Sedangkan pengobatan secara rinci, adalah dengan memperhatikan sebab yang mendorong melakukan ghibah, karena obat penyakit adalah dengan memutus sebab-sebabnya.

Haramnya Ghibah dengan Hati
      Buruk sangka adalah haram sebagaimana perkataan yang buruk juga haram.
Adapun lintasan-lintasan pikiran maka hal itu dima’afkan, bahkan keraguan hati juga dima’afkan, tetapi yang dilarang adalah prasangka.
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (al-Hujurat:12)
      Anda tidak boleh meyakini keburukan orang lain kecuali bila Anda telah melihatnya dengan nyata sehingga tidak dapat diartikan dengan hal lainnya.
  
Beberapa Alasan yang Memberikan Rukhshah dalam Ghibah
1)    Mengadukan kezhaliman.
2)    Menjadi sarana untuk mengubah kemungkaran dan mengembalikan orang yang bermaksiat ke jalan yang benar
3)    Meminta fatwa
4)    Memperingatkan orang Muslim dari keburukan
5)    Jika orang yang disebutkan sudah dikenal dengan nama julukan yang mengungkapkan tentang cacatnya.
6)    Jika orang yang disebutkan melakukan kefasikan secara terang-terangan

Penyakit Ketigabelas : Melibatkan Diri Secara Bodoh pada Beberapa Pengetahuan dan Pertanyaan yang Menyulitkan
      Orang awam merasa senang melibatkan diri pada pengetahuan, karena syetan menumbuhkan khayalan bahwa dirinya termasuk kalangan ulama’ dan orang yang memiliki keutamaan. Syetan terus menimbulkan khayalan itu hingga dia berbicara tentang pengetahuan yang membawanya kepada kekafiran sedangkan dia tidak menyadarinya. Setiap orang yang ditanya tentang pengetahuan yang rumit sedangkan pemahamannya belum mencapai tingkatan tersebut maka ia adalah tercela. Karena sesungguhnya dia dalam kaitannya dengan pengetahuan tersebut sangat awam.

Maraji’
Sa’id bin Muhammad Daib Hawwa, Mensucikan Jiwa : Konsep Tazkiyatun nafs Terpadu


 
Support : Cermat Media | Abu Izzan
Copyright © 2013. Blog Nurdin - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger